Pantura, Ceritamu Dahulu Kala

Menyusuri jalan menuju ibukota dari sisi utara bisa membawa diri pada sebuah renungan sejarah tentang kisah Pantura pada zaman dahulu kala. Bagaimana sebuah jalan panjang ini tercipta dan oleh siapa.

jalur pantura

Kali ini Lensa Pesisir akan berkisah tentang sejarah Pantura dan mengapa kita perlu mengingatnya.

Jalan Raya Pantura punya sejarahnya tersendiri. Ini sangat menarik, meski sebagaimana semua sejarah pembangunan akan melibatkan banyak darah sesama. Kita tak bisa ingkari fakta ini.

Jalur ini merupakan transformasi dari Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang diinisiasi Gubernur Jenderal Hindia Belanda bernama Herman Willem Daendels. Motifnya tentu saja adalah untuk memudahkan mobilisasi pasukan, karena jalan laut lebih berbahaya. Benarkah?

Faktanya pada masa itu jalan darat jauh lebih berbahaya. Jawa masih dipenuhi dengan hutan rimba sehingga tak ada kesempatan sedikit pun untuk melintasinya tanp kehilangan banyak pasukan.

Kita tak bisa melupakan sejarah perang pada abad sebelumnya, yang memakan korban lebih dari separuh jika pasukan berangkat melalui jalur darat.

Tapi itulah Deandels. Ia melihat bahwa hanya dengan menyatukan ujung barat dan timurlah caranya agar dapat menguasai seluruh tanah Jawa. Lagi pula sebenarnya juga ada jalan kuno yang terbuka hanya pada musim yang tepat, yaitu ketika musim kemarau ketika kelebatan hutan jauh berkurang.

Deandels, Gubernur Jenderal Hindia ke-36

Herman Willem Daendels namanya. Lahir pada tanggal 21 Oktober 1762 dan meninggal pada tanggal 2 Mei 1818). Ia menjadi saksi Revolusi Prancis yang terkenal itu, bahkan menggabungkan diri dengan pasukan Batavia yang republikan.

Kariernya cemerlang. Ia berpangkat Jenderal. Pada tahun 1795, ia masuk Belanda dan masuk tentara Republik Batavia dengan pangkat Letnan-Jenderal.

Deandels menjadi kepala kaum Unitaris dan ikut mengurusi disusunnya Undang-Undang Dasar Belanda yang pertama. Kemudian ia dikirim ke Hindia dengan misi melindungi koloni dari Inggris.

Daendels tiba di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808 untuk menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Tugas Daendels diserahi adalah untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Prancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807.

Tugas yang berat karena pada era gubernur jenderal sebbelumnya, armada Inggris sering muncul di perairan utara laut Jawa, bahkan di dekat Batavia yang menjadi pusatnya. Pada tahun 1800, armada Inggris telah memblokade Batavia dan menghancurkan galangan kapal Belanda di Pulau Onrust (Kepulauan Seribu) sehingga tidak berfungsi lagi.

Armada kecil Inggris di bawah Laksamana Edward Pellew pada tahun 1806 muncul di Gresik. Setelah blokade singkat, pimpinan militer Belanda, Friedrich von Franquemont memutuskan untuk tidak mau menyerah kepada Pellew. Ultimatum Pellew untuk mendarat di Surabaya tidak terwujud. Sebelum meninggalkan Jawa, Pellew memaksa Belanda membongkar semua pertahanan meriam di Gresik. Belanda terpaksa mengabulkan.

Deandels tiba dengan tekad untuk mencari solusi agar kerugian ini tidak terjadi lagi. Ia menyadari bahwa kekuatan Prancis-Belanda yang ada di Jawa belum mampu menghadapi kekuatan armada Inggris. Solusinya adalah membuka jalan dari Anyer ke Panarukan.

Jalan Raya Pos

Jalan Raya Pos merupakan jalur yang dibuat oleh Herman Willem Daendels saat menjadi gubernur jenderal Hindia periode 1808-1811. Jalan ini dibuat sebagai solusi untuk mobilitas pasukan ke seluruh Jawa. Fungsi ini berubah seiring dengan membaiknya administrasi kolonial, bahkan akhirnya menjadi jalan penghubung antar kota menggunakan pos.

Jalan yang dibuat Deandels awalnya sekitar 1000 km, membentang dari Anyer (Jawa bagian barat) sampai Panarukan (Jawa bagian timur). Jalan ini diperpanjang lagi pada periode berikutnya, pada masa Liberal menjadi 1.300 km. Menjadikan akses perdagangan kopi sebagai komoditi utama di pasar global menjadi jauh lebih baik dan lebih produktif.

Saat ini jalan De Groote Postweg memiliki panjang lebih dari 1300 km dan disebut dengan Jalur Pantura.

Pembangunan Jalan Raya dan sejarah Pos Indonesia

Pembangunan jalan Raya Pos dimulai pada tanggal 29 April 1808. Dimulai dari perjalanan awal Daendels dari Buitenzorg ( sekarang Bogor) ke Semarang. Perjalanan ini sangat menyiksa karena kondisi jalan yang buruk. Bahkan kurang efektif untuk kepentingan militer ataupun ekonomi.

Deandels memerintahkan Kolonel von Lutzow untuk memetakan jalan dari Bogor hingga Cirebon. Dari hasil pekerjaan ini, Daendels membuka proyek pertama pembangunana jalan pos dari Bogor hingga Cirebon melalui Karangsembung. Projek ini selesai 25 Mei 1808 dan sudah dapat dilalui kereta kuda. Ini sebuah prestasi pertama yang mendorong Deandels meneruskan pembangunan jalan.

Daendels melanjutkan proyek pembangunan jalan. Targetnya sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Deandels menggunakan para bupati sebagai pelaksana utama di setiap wilayah.
Proyek yang diimpahkantugaskan ke bupati tidak berjalan mulus. Masalahnya ada pada komunikasi yang jalurnya belum lancar. Saat itu belum ada pos-pos untuk komunikasi di setiap residen dan kabupaten. Maka sejarah kantor pos di Indonesia pun dimulai.
Daendels mengirim perintah persiapan tenaga untuk dinas pos 29 Mei 1808 dari tiap kabupaten, sehingga pada bulan berikutnya muncul dinas pos di tiga kota utama: Batavia, Semarang, dan Surabaya. Di sana dijelaskan bahwa sepanjang jalan yang sedang dibuat akan dilalui petugas pos.
Jangan bayangkan seperti kantor pos saat ini. Bentuknya adalah sebuah rumah untuk istirahat lengkap dengan fasilitas seperti kuda, kereta pos, dan peralatan pos lainnya didirikan.
Pembangunan jalan raya pos juga mengalami kendala karena wabah penyakit. Misalnya pada Agustus 1808, wabah penyakit menghampiri para pekerja di proyek Jalan Daendels. Wabah ini sangat buruk penanganannya sehingga memakan sangat banyak korban. Jalan yang dibangun tersebut sebagiannya membuka hutan dan rawa.
Memasuki bulan September, pembangunan jalan ini sudah sampai di Batang, Kaliwungu, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Juwana, Rembang, dan Surabaya. Lanjut ke bulan November, Daendels mengunjungi pantai di daerah Surabaya dan melihat potensi besar dari wilayah tersebut terutama untuk kepentingan pertahanan. Kemudian diambil keputusan untuk melanjutkan pembangunan jalan pos hingga ke ujung timur Pulau Jawa

Kendala pembangunan Pantura era Deandels

Mega proyek masa kolonial ini belum selesai pada tahun selanjutnya. Masih banyak masalah terutama keamanan. Pada 2 Februari 1809, Gubernur Jenderal Daendels mengeluarkan peraturan terkait hal ini.
Jalan raya ini berhasil menghubungkan Pasuruan yang melewati Porong, Sidoarjo, dan Bangil ini. Juni 1809.

Dari daerah Pasuruan inilah pembangunan berlanjut hingga Panarukan. Tepatnya 12 Desember, resmi ditetapkan peraturan Dinas Pos, Inspeksi Jalan, serta penginapan di daerah Pulau Jawa. Peraturan Sementara tentang Dinas Pos yang pernah dikeluarkan Juni 1808 resmi diganti. Dari peraturan inilah inspeksi jalan dan penginapan yang dibangun bisa dimanfaatkan oleh para pendatang yang melewatkan Jalan Pantura ini.

Jalan Raya Pos membentang hingga 1.000 kilometer. Jalanan ini melalui beberapa kota seperti Anyer, Tangerang, Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Probolinggo, dan Panarukan. Daeah-daerah tersebut kemudian dikenal juga sebagai daerah Pantura atau Pantai Utara.
Bagaimana dengan Banyuwangi? Pada masa Deandels belum sampai ke sana karena wilayah tersebut dipenuhi dengan hutan, hewan buas, dan tanah yang berawa. Aksesnya jauh lebih sulit.
Deandels mungkin sejak awal dapat membayangkan seperti apa akhir dari mega proyeknya ini. Bagaimanapun ia terinspirasi dari Imperium Romawi. Romawi pada masa kekuasaan Byzantine juga membangun jalan pos dengan nama Curcus Publicus.

Daendles mencontoh hal tersebut dengan tujuan agar logistik dan mobilitas pasukan Hindia Belanda di Pulau Jawa berjalan lancar dan Jawa tetap menjadi daerah kekuasaannya. Meskipun awalnya hanya untuk mempermudah mobilitas, namun semakin lama Jalan Daendels ini memiliki banyak tujuan mulai dari komunikasi, ekonomi, hingga militer. Dari segi komunikasi, jalan raya ini mempersingkat waktu pengiriman pesan. Dari sisi ekonomi, jalan ini meringankan ongkos pengangkutan sehingga kesempatan untuk ekspor semakin tinggi. Sedangkan dari segi militer, Jalan Raya Pos mempermudah pasukan Belanda yang ada di sekitar Pulau Jawa.

Catatan redaksi

Jalur Pantai Utara atau ‘Jalur Pantura’ adalah ruas jalan yang berada sejajar dengan garis pantai di bagian Utara Pulau Jawa. Jalan ini merupakan jalur jalan strategis bagi kelancaran roda perekonomian di Indonesia. Menjadi jalur jalan ‘Lintas Provinsi’ yang menghubungkan kota-kota di Jalan ini melewati 5 provinsi sepanjang 1.316 km di sepanjang pesisir pantai utara Jawa, yaitu Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jalur Pantura menghubungkan dua pelabuhan penyeberangan yaitu Merak di ujung Barat pulau Jawa dan Ketapang di ujung Timur pulau Jawa. Merak merupakan pelabuhan penyeberangan menuju Sumatra sementara Ketapang merupakan pelabuhan penyeberangan menuju Bali.

Semoga kisah ini menjadi salah satu bagian dari literasi masyarakat seputar pantai utara Pulau Jawa.

Tinggalkan komentar