Identitas Budaya Masyarakat Pesisir

Malam ini mimin Lensa Pesisir membaca sebuah jurnal akademik yang menarik tentang identitas kebudayaan masyarakat pesisir. Jurnal tersebut merupakan karya dari Pak Kusnadi, berdasarkan penelitian beliau selama ini. Dan yang membuat menarik karena membicarakan tentang masyarakat nelayan di Pantai Utara Pulau Jawa.

masyarakat pesisir

Pas banget dengan tema blog Lensa Pesisir ini, kan? Meskipun tulisan tersebut dibuat pada tahun 2010 namun masih relevan dengan kondisi sekarang ini.

Untuk diketahui, saat menulis ini, Pak Kusnadi merupakan seorang antropolog sekaligus staf pengajar Fakultas Sastra di Universitas Jember (UNEJ) dan Jurusan Sosiologi FISIP UNEJ. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Lembaga Penelitian UNEJ pada tahun 2003-2009.
Yuk kita mulai….

Identitas kebudayaan

Kemarin aku sudah menuliskan tentang definisi kebudayaan dari beberapa ahli, sobat bisa langsung ke artikel sebelumnya. Untuk memperjelas saja, kali ini daku akan mengutip satu saja yaitu dari guru besar antropologi Indonesia kita, Pak Koentjaraningrat. Definisi kebudayaan menurut beliau adalah:

“Kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal (1993:9). Menurut beliau, kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budidaya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal.”

Sejatinya manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka saling berkaitan erat. Budaya merupakan bentuk atau hasil dari kreativitas manusia. Kebudayaan merupakan penjelmaan dari hasrat manusia. Kebudayaan menjadi simbol atau identitas bagi suatu bangsa. Kebudayaan menjadi suatu tolok ukur untuk mengenal suatu negara secara lebih komprehensif.

Lalu, apa itu identitas budaya?
Identitas budaya adalah cerminan kesamaan sejarah serta kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang yang menjadi satu. Sudut pandang ini melihat bahwa ciri fisik atau lahiriah mengidentifikasikan mereka sebagai suatu kelompok. Oleh karena kita adalah bangsa Indonesia, maka identitas budaya nasional kita adalah semua keanekaragaman kebudayaan yang ada di Indonesia.

Kebudayaan nelayan

Oleh karena fokus kita adalah kehidupan masyarakat pesisir, maka kali ini mimin akan membahas tentang kebudayaan nelayan. Menurut Rob van Ginkel dalam buku Coastal Cultures: An Anthropology of Fishing and Whaling Traditions, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan.

Kelompok sosial masyarakat pesisir

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengetahui adanya kelompok sosial dalam masyarakat pesisir, termasuk yang tinggal di Pantai Utara Jawa. Secara umum, mereka terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan. Semuanya merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.

Menariknya, konstruksi masyarakat ini sangat dipengaruhi oleh eksistensi kelompok-kelompok sosial yang ada, dan mereka menggantungkan hidup pada usaha pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir. Berdasarkan hasil riset Fachrudin dkk pada tahun 1976, desa-desa pesisir memiliki ciri berbeda sehingga dapat dibagi ke dalam empat jenis, yaitu:

  1. Desa pesisir tipe bahan makanan, yaitu desa-desa yang sebagian besar atau seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai petani sawah;
  2. Desa pesisir tipe tanaman industri, yaitu desa-desa yang sebagian besar atau seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai petani tanaman industri;
  3. Desa pesisir tipe nelayan/empang, yaitu desa-desa yang sebagian besar atau seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, dan pembudidaya perairan; dan
  4. Desa pesisir tipe niaga dan transportasi, yaitu desa-desa yang sebagian besar atau seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai pedagang antarpulau dan penyedia jasa transportasi antarwilayah (laut).

Dengan memperhatikan struktur sumber daya ekonomi lingkungan yang menjadi basis kelangsungan hidup, dan sebagai satuan sosial, masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda dengan satuan-satuan sosial lainnya. Perbedaan itu akan tampak jelas.

Keseharian masyarakat pesisir sudah pasti berbeda dengan para petani di dataran rendah, peladang di lahan kering dan dataran tinggi, kelompok masyarakat di sekitar hutan, maupun satuan sosial lainnya yang hidup di daerah perkotaan. Identitas budaya mereka akan tampak berbeda.

Sebab, menurut Keesing (1989:68-69), kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya.

Setiap gagasan dan praktik kebudayaan itu harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Ini penting, karena artinya bisa digunakan sebagai pedoman hidup bag mereka. Jika kebudayaan tidak bersifat fungsional, sangat mungkin kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama.

Idealnya kebudayaan haruslah membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Juga sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat. Menurut Kluckhon, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, yang disepakati secara sosial.

Tinggalkan komentar