Eksploitasi Sumberdaya di Pesisir

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) eksploitasi adalah pengusahaan, pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. Atau pemerasan tenaga atas diri orang lain merupakan tindakan yg tidak terpuji. Kata ini mengandung arti negatif. Bagaimana jika dikaitkan dengan masyarakat pesisir?

eksploitasi sumberdaya

Kali ini kita akan bahas tentang eksploitasi sumberdaya pesisir. Semangat membaca…

Definisi ekspoitasi sumberdaya

Eksploitasi sumber daya alam adalah perbuatan mengambil sumber daya alam dengan berlebihan demi keuntungan sebesar-besarnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Eksploitasi ini akan berdampak pada terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti tambang dan minyak bumi akan segera habis jumlahnya. Rusaknya ekosistem asal sumber daya alam seperti hutan dan laut.

Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan akan merusak alam. Itu sudah pasti, karena keseimbangan alam tak lagi terjadi. Sebagai contoh adalah pengambilan bibit-bibit ikan secara massif untuk pembuatan ikan asin atau baby fish crispy. Jika calon ikan konsumsi sudah diambil maka keseimbangan ekosistem akan terganggu. Ikan menjadi sangat langka bahkan bisa terjadi kepunahan untuk spesies tertentu.

Eksploitasi sumber daya alam dapat menyebabkan perubahan lingkungan, karena eksploitasi itu juga sama dengan menghilangkan makhluk hidup yang berada di dalam lingkungan itu sendiri. Denganmengeksploitasi, keadaan alam akan menjadi tidak seimbang sehingga mendorong terjadinya perubahan lingkungan.

Manusia dan eksploitasi alam

Mengapa manusia mengeksploitasi alam? Pertanyaan ini kerap muncul dan takkan habis dibahas. Salah satu penyebabnya adalah sifat manusia itu sendiri yang selalu memiliki keinginan tak terhingga.

Eksploitasi alam terjadi karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Apalagi pada era modern seperti saat ini. Kebutuhan manusia akan sumber daya alam sangatlah tinggi. Padahal eksploitasi yang dilakukan itu telah merusak lingkungan tempat mereka hidup sendiri.

Ada pula penyebab yang lain dan lebih alami yaitu ledakan populasi manusia yang menetap di bumi.

Tujuan eksploitasi yang dilakukan oleh manusia cukup beragam. Yang paling sering terjadi adalah eksplotasi untuk untuk kepentingan diri sendiri, dengan mengorbankan kepentingan orang lain – di luar batas kepatutan.

Sasaran utama eksploitasi adalah penguasaan dan penggunaan untuk mengeruk dan memeras potensi sumber daya, baik sumber daya alam atau sumber daya manusia. Dalam hal ini, jika dikaitkan dengan eksploitasi sumberdaya pesisir, bentuk yang paling sering terjadi adalah overfishing.

Overfishing

Overfishing adalah proses pengambilan stok ikan secara berlebihan, terlalu banyak sampai pada tahap sebagian besar potensi makanan dan kekayaan yang diambil tidak berhasil dimanfaatkan dengan sepenuhnya. Kegiatan overfishing sangat berdampak buruk bagi lautan kita.

Populasi ikan menurun drastis, jika terjadi overfishing. Namun tak sampai itu saja. kegiatan negatif ini juga dapat membuat ekosistem laut menjadi sangat terganggu. Mengapa demikian? Karena bisa dikatakan jika setiap satu spesies flora dan fauna di dalam laut dapat menunjang hidup 3 – 5 spesies flora dan fauna yang lainnya.

Salah satu penyebab utama terjadinya penangkapan ikan berlebihan (overfishing) di perairan laut dunia, termasuk Indonesia, adalah akses terbuka perikanan (fisheries open access). Hal ini membuat para nelayan terus termotivasi untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya karena jika tidak, maka nelayan lain yang akan menangkapnya.

Disebut sebagai penangkapan berlebih jika kegiatan penangkapan itu menyebabkan penurunan populasi ikan. Penangkapan ikan biasanya melebihi kesaanggupan ekosistem dalam menyediakan kembali sumberdaya tersebut. Contohnya penangkapan ikan menggunakan jaring insang atau pukat pantai, yang keduanya dapat merusak ekosistem terumbu. Kita tahu bahwa perbaikan terumbu karang teramat sangat lamban.

Eksploitasi sumber daya perikanan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan

Kusnadi dalam buku Keberdayaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir halaman126-127 membagi eksploitasi sumber daya perikanan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan menjadi empat, yaitu:

  1. Mengeksploitasi terus-menerus sumber daya perikanan tanpa memahami batas-batasnya;
  2. Mengeksploitasi sumber daya perikanan, disertai dengan merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti menebangi hutan bakau serta mengambil terumbu karang dan pasir laut;
  3. Mengeksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara yang merusak (destructive fishing), seperti kelompok nelayan yang melakukan pemboman ikan, melarutkan potasium sianida, dan mengoperasikan jaring yang merusak lingkungan, seperti trawl atau minitrawl;
  4. Mengeksploitasi sumber daya perikanan dipadukan dengan tindakan konservasi, seperti nelayan-nelayan yang melakukan penangkapan disertai dengan kebijakan pelestarian terumbu karang, hutan bakau, dan mengoperasikan jaring yang ramah lingkungan.

Perilaku pertama, kedua, dan ketiga dianut oleh sebagian besar nelayan kita sebagai konsekuensi dari persepsi yang kuat terhadap sumber daya perikanan atau sumber daya kelautan yang bersifat open access bagi siapa pun yang mau memanfaatkannya. Perilaku keempat adalah perilaku minoritas di kalangan masyarakat nelayan.

Dapat dikatakan bahwa ada perubahan perilaku yang cukup signifikan, yang berasal dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian sumber daya yang mereka ambil. Biasanya masyarakat ini memiliki komunitas-komunitas adat atau komunitas lokal, yang mengelola sumber daya perikanan untuk memperkuat kepentingan ekonomi kolektif, kemandirian sosial, dan kelangsungan hidup.

Komunitas-komunitas adat seperti ini tersebar di berbagai wilayah tanah air. Mereka menjaga dengan baik pranata-pranata pengelolaan sumber daya laut yang dimilikinya. Contoh yang dapat disebutkan adalah seperti sasi di Maluku, ondoafi di Papua Barat, bati di Ternate, rompong di Sulawesi Selatan, tonass di Sulawesi Utara, awig-awig di Nusa Tenggara Barat, patenekan di Banten, atau gogolan di Tegal.

Masih menurut Kusnadi dalam buku yang sama, klaim pemilikan atas sumber daya komunal ini dilegitimasi oleh sejarah sosial dan unsur-unsur identitas etnisitas yang mereka miliki (Kusnadi, 2009:127).

Perilaku eksploitatif yang tak terkendali berimplikasi luas terhadap kelangkaan sumberdaya perikanan dan kemiskinan nelayan. Di samping itu, kompetisi antarnelayan dalam memperebutkan sumber daya perikanan terus meningkat, sehingga berpotensi menimbulkan konflik secara eksplosif di berbagai wilayah perairan, khususnya di kawasan yang menghadapi kondisi overfishing (tangkap lebih).

Kondisi-kondisi umum yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi timbulnya konflik nelayan adalah sebagai berikut:

  1. Kelangkaan atau semakin berkurangnya sumber daya perikanan, khususnya di perairan pantai, dan kondisi overfishing, yang disebabkan oleh beberapa hal penting, yaitu: eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem pesisir-laut.
  2. Kegiatan eksploitasi sumber daya perikanan tidak disertai dengan kesadaran dan visi kelestarian atau keberlanjutan dalam mengelola lingkungan pesisir-laut, sehingga terjadi ketimpangan.
  3. Kegagalan pembangunan pedesaan di wilayah kabupaten/kota pesisir, sehingga meningkatkan tekanan penduduk terhadap sumber daya laut dan kompetisi semakin meningkat.
  4. Belum adanya perencanaan dan aplikasi kebijakan pembangunan wilayah pesisir secara terpadu dengan melibatkan stakeholders yang luas.

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan semua sobat Lensa Pesisir ya….

Tinggalkan komentar