Apa Kabar Literasi Anak Era Pandemi

Era digital mengubah banyak hal. Era pandemi merombak lebih banyak hal lagi. Tatanan lama berubah. Gawai menjadi andalan dan pegangan. Jika pada masa sebelumnya literasi anak masih rendah, masa pandemi ini tak beranjak jauh dari posisi tersebut. Mungkin malah merosot. Benarkah?

literasi anak pantura

Kita akan melihatnya dari sudut pandang Clara Ng karena apa yang ia sampaikan cukup menarik untuk disikapi. Bisa dijadikan referensi bagi masyarakat pesisir Pantai Utara Jawa juga.

Jangan meninggalkan kopi saat membaca ini….

Literasi masa sekarang menurut Clara Ng

Penulis Clara Ng menilai dunia literasi anak-anak zaman sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu kala. Kini literasi bagi anak-anak seolah tak dianggap sebagai sesuatu yang penting sehingga dampaknya terlihat kala pandemi melanda. Literasi anak pada era pandemi masih rendah.

Demikian menurut novelis cerita anak-anak tentang keresahannya tatkala sesi jumpa media Jakarta International Literary Festival (JILF), Selasa (01/12). Tahun ini, acara literasi tersebut mengambil tema Heroes: (Re) making History.

Clara membandingkan dunia literasi anak-anak dulu dan zaman pandemi, menurutnya banyak hal yang telah hilang,” kata Clara Ng. “Saya melihat saat ini banyak anak-anak yang tumbuh tanpa ada pondasi yang kuat. Apalagi masa pandemi saat ini anak-anak kita dipaksa untuk memahami pandemi dan urusan orang dewasa,” tambahnya.

Clara pesimis anak-anak bisa paham dengan kondisi saat ini. Masih banyak banyak pihak tidak menyadari pentingnya literasi untuk anak-anak. Padahal literasi adalah jembatan bagi anak-anak menuju proses pendewasaan dan memahami lingkungan sekitar. Apa yang terjadi jika Literasi anak masih rendah?

Baca juga: Keragaman Budaya

“Jika anak-anak tidak dibiasakan untuk membaca buku, lalu kita memaksa mereka untuk memahami kondisi sekarang sementara mereka tidak memiliki dasar yang kuat, akhirnya mereka harus lompat,” kata Clara.

“Jadi saya melihat ada jembatan yang terbakar, jembatan untuk anak-anak untuk menjadi dewasa. Untuk tumbuh menjadi dewasa, anak-anak membutuhkan tangga membaca dimulai sejak dini,” lanjutnya.

Road to JILF

Clara Ng merupakan salah satu panelis dalam acara Road to JILF tahun lalu. JILF 2021 diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Kali ini akan lebih banyak mengangkat topik berkaitan dengan cerita kepahlawanan yang bermunculan selama masa pandemi tapi kurang diperhatikan. Acara ini diharapkan dapat meningkatkan literasi pada anak dan pada masyarakat pada umumnya. Terutama budaya membaca dengan baik untuk menangkal hoax seputaran Pantai Utara Pulau Jawa.

“JILF ingin menjadi sebuah ruang yang terbuka dan berani dalam menembus batasan, terutama dalam upaya menjadi bagian dari sebuah memori kolektif untuk reka ulang lanskap sastra dunia yang lebih mudah diakses, beragam, dan setara.” ujar kurator JILF, Isyana Arthar.

Gelaran JILF rencananya akan berlangsung selama tahun 2021. Ada sejumlah rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak November lalu. Semua warga dapat mengikuti acara ini

JILF juga menyajikan perbincangan sastra melalui Podcast Sastra dan Diskusi Panel dengan empat tema utama meliputi “Sejarah dari Ingatan”, “Kekuatan dan Batas Representasi”, “Kisah-Kisah Fantastis”, dan “Kisah-Kisah Masa Depan”. Tema-tema tersebut akan diperbincangkan bersama 37 orang dengan latar beragam sebagai narasumber dan moderator.

Publik dapat menyimak delapan episode siniar sastra yang dirilis secara berkala sejak 18 November-3 Desember melalui siniar Footnotes from JILF. Ini sangat menarik. Jika dimanfaatkan benar dan anak didampingi selama mengikuti siniar maupun acara lainnya, setidaknya masih dapat meningkatkan angka literasi anak pada masa pandemi ini dan era post-pandemi nantinya.

JILF menyiapkan empat seri diskusi panel pada 4-6 Desember tahun ini, dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Jakarta International Literary Festival sebagai rangkaian dari Road to JILF.

Kesimpulan

Meski acara JILF 2021 sudah berlalu namun pendapat Clara Ng masih bisa dijadikan sebuah renungan dan catatan tentang kondisi literasi anak dan masyarakat pada umumnya di tahun ini. Memang patut disayangkan karena kita masih belum berhasil membangun pondasi literasi yang kokoh.

Demikian yang dapat disampaikan oleh Lensa Pesisir pada catatan kali ini, semoga diperhatikan dan jadi renungan bersama.

Tinggalkan komentar